Thursday, January 27, 2011

Tentang Ingatan dan Ideologi

The struggle of man against power is the struggle of memory against forgetting” — Milan Kundera (The Book of Laughter and Forgetting).

Suatu bangsa mempunyai sebuah kekuatan besar yang tak gampang dilenyapkan, yaitu ingatan bersama (collective memory). Percaya atau tidak, ingatan akan selalu menjadi titik tolak kesadaran imperatif yang melekat dalam tindakan kehidupan suatu bangsa. Secara sosial-antropologis, ingatan bisa dikatakan sebagai hasil metamorfosa tentang gejolak ideologi dalam suatu negara secara umum, atau ia merupakan hasil konsensus masyarakat yang mereka tangkap bersama sebagai buah dari proses kebudayaan. Ingatan bersama menjadi senjata dalam menciptakan gerakan sosial (social movement)—mulai dalam skala kecil hingga bernama revolusi—yang berdasarkan kepada kesadaran etis yang berkembang di suatu masyarakat-negara.

Bisa saja ingatan yang telah tertanam kuat dalam diri suatu bangsa sama sekali tidak mereka sadari secara kritis. Ingatan seperti itu lahir karena faktor kinerja ideologi yang teramat kuat sehingga cita-cita ideologi untuk membentuk kesadaran palsu bisa tercapai.  Ini adalah ingatan semu yang sangat membahayakan dan mengancam prinsip integritas humanisme.
Dari manakah dan bagaimana proses collective memory tersebut bisa mengakar kuat dalam diri masyarakat? Pertanyaan ini muncul begitu saja ketika saya bersinggungan dengan segelintir orang dan bersangkut paut tentang ingatan mereka sebagai hasil kloning dari gejolak sebuah ideologi: antara komunisme dan kapitalisme; antara Amerika dan negara-negara Komunis. Pengalaman itu harus saya ceritakan secara proporsional di sini.

Saya ada kunjungan belajar (study visit) ke sebuah kota bagian selatan Amerika Serikat, yaitu Columbia, sebuah ibu kota di negara bagian South Carolina selama dua bulan. Waktu yang relatif singkat ini, dari Juni sampai Juli 2010, memang bukan waktu yang cukup proporsional untuk belajar banyak hal, apalagi tentang sebuah bangsa dan masyarakat (people). Seujung kuku pun tidak. Jika bisa dibilang, saya hanya menyisiri bagian terluar aspek kemanusiaan dari sebuah bangsa yang populasinya menduduki terbesar ketiga dunia setelah China dan India itu. Meskipun sebentar, setidaknya saya dihadapkan kepada sebuah realitas yang saya simpulkan sebagai hasil fragmentasi tentang ideologi negara, yang mengendap dalam ingatan bangsa.

Ada sepenggal peristiwa menarik yang tak mudah saya lupakan selama belajar di Columbia, tepatnya di area University of South Carolina. Di suatu pagi awal musim panas, 8 Juli 2010, dan hari kedua saya berada di kota itu, saya bersiap-siap untuk mengurus semua tetek bengek dan perlengkapan fasilitas saya sebagai international student yang barus. Sebuah kaos T-shirt sederhana yang saya beli di salah satu swalayan di Yogyakarta menjadi saksi penting bagi peristiwa hari itu. Kaos berwarna putih dengan gambar foto Che Guevara di bagian depan menjadi pembalut tubuh saya di awal musim panas yang mulai menyengat itu. Saya berjalan kaki di awal-awal saya berada di sana, bersama satu rombongan dari Indonesia berjumlah 20 (sebelum satu orang tiba menyusul dari Indonesia). Berjalan kaki memang mempunyai sisi eksotis tersendiri yang tak gampang dilakoni.

Saya tidak banyak berpikir tentang apa yang akan terjadi nantinya dengan T-Shirt yang saya kenakan itu. Saya memang sudah menahu bahwa Amerika, sebagai negara penganjur ideologi kapitalisme dan pragmatisme, telah bersitegang lama dengan sosok siapa pun baik person ataupun negara yang berhaluan sosialisme-komunis. Komunisme versus kapitalisme telah menuliskan sejarah tersendiri yang teramat merah dalam peta sejarah. Dari serentekan lakon perang ideologi tersebut telah melahirkan Perang Dinging antara Uni Soviet (sekarang Rusia) dan Amerika, dan perang-perang dengan bentuk lain sebagai kamuflase kebencian di antara dua negara dengan idealogi yang besar tersebut. Dan, harus disadari, hingga hari ini pun, perang pertunjukan ideologi melalui kebijakan politik luar negeri (foreign policy) terus dipoles sedemikian cantik dan cerdik agar bisa masuk ke negara-negara khususnya yang sedang berkembang (developing countries). Alasannya hanya satu: demi kemenangan! Ketika kemenangan di tangan, tersebutlah itu si superpower, penguasa, dan negara pertama.

Di hari itu saya harus berhadapan dengan banyak orang penting di lingkungan University of South Carolina, mulai dari placement test, health recheck, hingga masuk ke kantor administrasi kampus untuk mengurus kartu mahasiswa (Carolina Card).

Orang pertama yang saya temui di pagi adalah Russ Harless, seorang Sponsored Students Coordinator, dan Kelly Anastes, seorang Program Assistant. Dua orang ini yang nantinya akan banyak bersinggungan dengan saya dan juga students batch dari Indonesia, dan kepada mereka pula curhat-curhat “sedikit” tentang Amerika biasa saya lontarkan, pelan-pelan saja.

“Do you like him, BJ?” Si Russ langsung menatap sketsa sosok orang yang bersandar dingin di kaos saya. Kelly yang sedang berada di sebelahnya hanya seperti memastikan pertanyaan Russ dengan menganggukkan kepala, lalu mukanya disempatkan menatap sebentar pada sosok Che di kaos saya. Lengkaplah saya seperti seorang pesakitan yang harus menjawab pertanyaan itu. Saya jawab pendek saja, dan pelan: yeah I like him (tapi saya mengoceh dalam hati: I did not really care about that).

Selanjutnya saya datang ke ruangan dokter yang mengurus kesehatan semua mahasiswa internasional di universitas itu. Saya bertemu dengan seorang dokter, umurnya sekitar kepala 5 ke atas, kepala agak botak, dan kaca mata minus agak tebal dan bergagang bening. Sembari mengecek darahku, mulut si dokter meluncurkan kalimat yang sama: do you like him sembari menatap gambar Che Guevara di kaos. Saya mengangguk dan yes. Tatapan dokter itu jelas sekali seperti membuang muka, dan semua urusan check kesehatanku seperti sangat lekas. Kembang senyum yang saya lihat sebelumnya tidak saya temukan lagi. Pak dokter seperti benar-benar menyudahi obrolan dan banyak berpaling! “I need to recheck your blood downstairs” Saya menangkap bahasanya yang rada kabur di telinga (maklum masih baru 1 hari di Paman Sam hehe). Saya ikuti saja perintahnya, ikut turun ke lantai bawah, dan bertemu dengan “penyedot darah”: orangnya hitam, besar, dan seram! Diambillah sampel darahku untuk kedua kalinya, di tangan yang sama pula: tangan kiri! Dalam beberapa menit saja, dua perban bekas jarum suntik membungkus tangan kiri.

Dari sini saya lalu mulai benar-benar curious dan ingin mengetahui tentang mengapa alasan mereka begitu antusias menanyakan sosok di kaosku itu. Tapi saya simpan dulu dan saya melanjutkan urusan berikutnya. Saya bertemu seorang perempuan tua berusia sekitar kepala lima ke atas. Ia mewawancarai saya untuk menentukan kelas (placement test) tingkat berapa untuk kemampuan speaking (and thanks God, I got SL 5). Sebelum apa-apa, ia sudah secara jelas melototi kaosku dan langsung bertanya tentang kesuakaanku kepada sosok Che. Sudah ada empat orang yang menanyakan tentang sosok Che Guevara, dan saya benar-benar ingin tahu alasan lebih lanjut bagaimana mereka melihat dan menilai sosok Che. Memang di hari itu saya merasa menjadi orang ganjil-sendirian dan diplototin banyak mata, atau ditatap secara khusus, yang berpapasan dengan saya.

Begitulah ingatan, ia begitu dalam tertanam di lubuk hati manusia, sebuah ingatan yan diproduksi dan diciptakan lalu secara serius dikampanyekan oleh negara (state) untuk bangsanya. Ia bisa diproduksi melalui media, kebijakan-kebijakan, dan bahkan kampanye verbal di depan khalayak ramai, demi mempertegas tentang musuh-musuh ideologis mereka yang harus diwaspadai. Posisi state dan pemerintah, sebagai agen yang bergerak di dalamnya, mempunyai peran sentral dalam menciptakan kebijakan untuk memupuk ingatan bangsanya karena government, seperti disinyalir Michel Foucault, has a finality of its own (Michel Foucault: 210, 2000). Pemerintah suatu negara bisa secara benar-benar mengubah apapun di dalamnya!

Che Guevara: Sosialisme Komunis

Che Guevara bukanlah sosok asing bagi kita bangsa Indonesia, karena Indonesia mempunyai kesamaan sejarah—pernah mengalami gejolak dan perseteruan hebat antara pemerintah dengan ideologi komunisme. Dan bahkan paham komunisme mempunyai partai sendiri dalam sejarah politik Indonesia, yaitu Partai Komunis Indonesia (PKI). Ini menunjukkan bahwa sosialisme tidak asing lagi bagi Tanah Pusaka ini. Ia telah menjadi bagian sejarah penting yang, meskipun hitam, harus diperhatikan sebagai masalalu yang telah ikut andil dalam mendewasakan bangsa ini.

Che lahir di Rosario, Argentina, 14 Juni 1928. Namun hidupnya sudah ditakdirkan untuk semua bangsa, terutama untuk bangsa dan negara Amerika Latin: Bolivia, Argentina, Kolombia, Chili, Venezuela, Peru, Meksiko, Kuba, dan bahkan pernah ke Indonesia sekitar tahun 1959. Tokoh yang dikenal sebagai prorevolusi yang berhaluan Marxis dengan belajar tekun kepada Lenin dan Mao Ze Dong ini adalah sosok yang tak kenal kompromi dan bahkan sangat tega dalam menindak tegas anak pasukan gerilya yang dipimpinnya. Pengalaman masa kecilnya yang selalu berpapasan dengan para pengungsi perang saudara Spanyol dan serentekan krisis politik di Argentina, ditambah dengan kesadaran proletarianisme yang kuat, membuat sosok Che cepat besar dengan ambisi visi sosialisme-komunismenya. Maka tidak heran jika pemerintah Amerika dan mungkin sebagian rakyatnya benci sekali dengan sosok yang satu ini. Karena, bersama Fidel Castro setelah memimpin Kuba, Che benar-benar merongrong dan “meludahi” kemapanan kapitalisme yang dipimpin oleh Amerika.

Dewasa ini agak sulit jika menyisir rekam-jejak gerakan sosialisme-komunis. Setiap negara dan aktor yang bemain di dalamnya mempunyai model tersendiri dalam mempraktekkan kitab suci mereka, sebagai rancangan dan abstraksi teoritis, yaitu karya-karya Karl Max bersama Angles (Manifesto Communist), dan terutama Das Kapital-nya Max. Sebagai contoh, komunisme China tentu beda dengan Kuba, atau bahkan dengan Moskow sendiri. Sebagai gerakan kritis dan perlawanan terhadap kemapanan, ruh komunisme atau sosialisme pun mencair dan mengakar ke setiap penganutnya dalam bentuk praksis berbeda dan kemudian membentuk sebuah istilah “ala”, seperti sosialisme ala Tan Malaka di Indonesia. Bentuk-bentuk mazhab baru tersebut akhirnya mendapatkan tempat sebagai haluan paham neo-Marxis.

Sosialisme etis merupakan salah satu contoh yang menarik, yang coba dicarikan bentuk “etis”-nya dari sosialisme dengan merunut jejak teoritik hingga ke kitab teori etika Kant. Sosialisme etis adalah teori yang menegaskan bahwa sosialisme hendaknya dianggap terutama sebagai totalitas prinsip-prinsip dan norma-norma moral dan etis. Neo-Kantinisme merupakan basis teoritisnya. Para pengikut kant (Cohen, P. Tatorp, K. Vorlander dll) berupaya mengawinakn sosialsime ilmiah dengan filsafat moral Kant. Mereka yakin Kant merumuskan gagasan dasar sosialime, gagasan solidaritas (Lorens Bagus: 1032, 2000). Begitulah ideologi memproduksi jaringan-jaringan ideologisnya dengan menyesuaikan kepada zaman dimana dan kapan mereka berada.

Tak ayal jika ideologi sosialisme seperti ini kerap dicekam sebagai sistem utopis dan sebagian besar para pendukungnya adalah para filantropis kelas menengah yang mempunyai komitmen untuk memperbaiki kehidupan para buru (Adam Kuper: 1012, 2000). Ideologi dan utopia akhirnya bersanding menjadi entitas yang sama-sama menyesatkan ketika kita terlalu meyakini secara ektrem perihal ideologi-ideologi yang pernah ada.

Bagaimana pun, sosialisme Che tetaplah sosialisme ala Che yang dia pahami sendiri melalui perseteruan panjang yang bergolak dalam dirinya. Che tetaplah Che dengan segudang keberanian demi rakyat kecil yang menderita khususnya di Argentina. Ia sama sekali tidak terima melihat rakyat kecil di pinggiran Argentina, sisa-sisa suku Indian, yang ia lihat sendiri secara langsung selama melakukan penjelajahan mengelilingi Argentina dengan sebuah motor. Keberaniannya pun harus ditebus dengan kematian ketika pada umurnya yang ke-39 ia ditangkap dan dihukum mati oleh tentara Bolivia. Che tidak pernah minta dituliskan sebagai apa dan siapa; Che hanya tidak terima bahwa ada penderitaan yang membuncah di matanya ketika dia menyaksikan sendiri kematian rakyat Amerika Latin yang menunggu.

Kapitalisme

“Kapitalisme sudah menjadi pilihan ideologi sistem ekonomi di Amerika. Ideologi ini sudah benar-benar merasuk dan tertanam hampir masyarakat Amerika secara umum. Kami berpikir dan fokus bagaimana kami bisa makan, mengumpulkan uang sebanyak mungkin, dan hidup sejahtera bersama keluarga. Makanya kami menjadi sangat pragmatis, dan semua orang dari berbagai bangsa di dunia mengatakan seperti itu. Saya terima itu karena ideologi tersebut telah menjadi pilihan hidup kami,” Russ Harless menumpahkan semua opininya tentang diri dan bangsanya. Ini adalah kesempatan diskusi yang manis bagi saya demi mengorek pengalaman bersama kaos Che Guevara yang saya kenakan sekitar 1 minggu sebelumnya.

Jam menunjukkan pukul 00.10 di Bandara Columbia, di saat kami hangat berdiskusi tentang ideologi politik Amerika. Kami mengobrol sambil menunggu seorang teman yang baru datang dari Indonesia di Bandara Ibu Kota South Carolina. Ada sekitar 30 menit kami mengobrol, dan dialog ini merupakan hasil saripati diskusi saya.

“Jadi pantas sekali jika kami, terutama orang-orang yang seusia saya (usia Russ sekitar 40 tahun ke atas), tidak suka dengan Che Guevara karena bagi saya dia adalah seorang komunis. Komunis adalah musuh saya dan pemerintah saya. Tapi saya tidak yakin bahwa orang-orang apalagi generasi muda seusiamu (saya berusia 24 tahun) mengerti tentang Che. Saya tidak mau pusing-puising berpikir tentang topik ini, yang penting saya bisa makan, dapat uang yang banyak, dan hidup sejahtera.”

Basis teoritis kapitalisme memang sudah eksis sejak dahulu kala, teruatama ketika berakhirnya era markentalisme dan revolusi industri di Inggris abad 16 hingga 18, bisa dirunut melalui buku monumental karya Adam Smith berjudul Wealth of Nations (1776), Dari sini kapitalisme kemudian terus berkembang sesuai dengan zamannya. Paham yang mengedepankan induvidualisme atas kepemilikan modal dan produksi ini berlangsung di mayoritas negara-negara Barat (Eropa dan Amerika) hingga hari ini. Logika sederhana tentang kapitalisme adalah sebuah sistem ekonomi yang membebaskan siapa saja memiliki produksi dan modal, sebagai kepemilikan pribadi, kemudian memproduksi sebebas-bebasnya menurut/yang dipercayakan kepada mekanisme pasar demi laba dan keuntungan pribadi. Peran pemerintah di sini bungkam dan tidak ada fungsinya apa-apa. Maka jelas sekali jika kaum-kaum borjuis bisa menguasai modal dan pasar, merekalah yang akan menang.

Kapitalisme terus berkembang sesuai dengan keperluan zaman, menurut tahapan-tahapannya, yaitu kaitalisme dagang (merchant capitalism), kapitalisme agrarian (agrarian capitalism), kapitalisme industry (industrial capitalism), dan kapitalisme negara (state capitalism) (Adam Kuper: 92, 200). Tahap-tahap ini menunjukkan betapa seriusnya sistem kapitalsime berkembang hingga pada tahapan terakhir negara menjadi salah satu pengembang sistem kapitalisme yang paling ampuh. Karena dalam negara ada banyak elemen seperti pemerintah, kebijakan, dan rakyat sendiri yang akan menjadi actor-aktor capital. Bagi negara kapitalis, bisa dipastikan rakyatnya akan mengalami proses capitalized-mind atau pikiran yang terkapitalisasikan sehingga ia menjadi falsafah hidup mereka.

Cara kerja kapitalisme, dalam praksisnya seperti dipraktekkan oleh negara kapitalis, adalah pragmatis, dalam artian bahwa semua jalan untuk mendapatkan keuntungan secepatnya bisa dilakukan. Di sini hampir tidak berlaku nilai-nilai etis dan humanis yang bisa diandalkan, karena sikap individualitas dan egoisitas akan menduduki angka pertama dalam urusan mereka. Proses ini juga menjadi andil utama dalam menanamkan ingatan kepada sebuah bangsa. Maka tidak salah jika Russ dengan yakin mengakui tentang pragmatic people yang menjadi cirikhas kebudayaan masyarakat Amerika.

Sampai di sini, saya mengajukan pertanyaan, seberapa hebatkah sebuah ideologi itu merasuk dan memalsukan pikiran masyarakat, meskipun mereka adalah orang-orang terdidik dengan tingkat pengetahuan dan kesadaran yang tinggi?

Ideologi dan Ingatan

Namun, ideologi ibarat sebuah proyek semu dan palsu. Ia tak lebih sebagai arena untuk menyesatkan kemanusiaan kita karena mereka yang sudah terkungkung dalam lingkaran ideologi akan selalu berhadapan dengan sikap eksklusivitas dan bahkan ektrem terhadap realitas dan fakta-fakta ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan dan sederetan fakta ilmiah tidak masuk dalam lingkaran ideologis. Mereka menggembalakan subjektivitas dalam lingkarannya.

Sebagai contoh, bagi para penganut kapitalisme, sosialisme dicap sebagai sesuatu yang utopis dan mustahil karena sistem sosialisme tidak didasarkan kepada kenyataan empiris, selain hanya didasarkan pada harapan-harapan. Sistem sosialisme tidak didasarkan pada tesis bahwa pada dasarnya manusia merupakan makhluk yang serakah terhadap kekayaan material. Namun begitu, sosialisme mempunyai harapan-harapan besar tentang nilai-nilai kebersamaan yang didasarkan kepada kerja untuk orang lain di bawah sistem yang tidak dimiliki. Meskipun kerap dikecam sebagai utopia, namun Karl Max dan Angles melakukan upaya sistematisasi demi terwujudnya harapan sistem sosialisme ini (Axel van Den Berg: 45, 1988).

Dalam pengertian populernya, ideologi diartikan sebagai sesuatu yang tidak sesuai dengan kebenaran. Merujuk pada The World Book Encyclopedia seperti dikutip Arief Budiman dalam pengantar buku Ideologi dan Utopia karya Karl Mannheim, ideologi tidak didasarkan pada informasi faktual dalam memperkuat kepercayaan. Orang yang menerima sebuah sistem pikiran tertentu ini cenderung menolak sistem pikiran lain yang tidak sama dalam menjelaskan kenyataan yang sama. Untuk orang-orang ini, banyak kesimpulan yang didasarkan pada ideologi mereka yang dianggap sebagai logis dan benar. Larena itu, orang secara kuat menganut sebauh ideology tertentu mengalami kesukaran untuk mengerti dan berhubungan dengan pengenut ideologi lain (Kalr Mannheim: xvii, 1991).

Dua ideologi besar yang saya perbincangkan di atas hendak menunjukkan bagaimana pengaruh dan kerja ideologi terhadap people dalam sebuah negara. Pengalaman yang saya tulis di atas adalah bukti bagaimana ingatan sebuah bangsa tidak bisa dilepaskan dari (ideologi) masalalunya. Dan Amerika, sebagai negara yang sudah terang-terangan mendeklerasikan dirinya sebagai negara kapitalisme, telah menanmkan kebencian personal kepada ideologi yang menjadi tandingannya, yaitu sosialisme. Entah kenapa ingatan tentang lingkaran ideologis yang subjektif itu masih saja terus memroduksi ingatan-ingatan bersama bagis sebuah bangsa. Ini menunjukkan, satu sisi, bahwa peran negara dalam menggirim dan mencipatakan ingatan bangsanya sangatlah dominan dan, di sisi lain, justru menjadi pertanyaan saya: mengapa bangsa yang sudah mempunya kesadaran sejarah ilmu pengetahuan masih terjebak dalam hantu ideologis yang negara ciptakan?

Untuk menancapkan ingatan kepada suatu bangsa, sebuah ideologi dan agen-agennya melakukan cara-cara ekstrem tersendiri demi kemenangan. Mansour Fakih dalam pengantar buku Menapak Jalan Revolusi-nya Muammar Qathafi secara jelas menyebutkan bahwa dua-duanya baik kapitalisme maupun komunisme mempunyai Perang Dingin hanya menjadi istilah bagi perang ideologi antara blok kapitalisme Barat yang dipimpin Amerika Serikat dengan blok sosialis yang dipimpin Uni Soviet (Rusia) yang sama-sama ingin menanamkan pengaruh mereka di negara-negara Selatan yang baru merdeka. Perang Dingin adalah untuk memperebutkan hegemoni ke negara-negara yang dikenal sebagai dunia ketiga ataupun dunia selatan tresebut.

Sebagai sebuah contoh dalam kondisi seperti ini, saya jadi ingat bagaimana masyarakat Indonesia memandang komunis. Di Jawa khususnya, ketika orang tua saya mendengat kata komunis, mereka sudah pasti berang dan tidak suka. Dan ternyata ingatan kolektif bangsa Indonesia terhadap kaum komunis masih sangat buram. Jelas, semua itu hasil doktrinasi pemerintah selama Orde Baru berkuasa.

Penutup

Di situlah peran ideologi. Ia sangat sentral dalam menciptakan pengaruh dan ingatan kolektif kepada bangsanya. Kebencian-kebencian sebagai hasil produksi ideologis terhadap sosok dan negara yang menjadi musuhnya terus akan berkembang semasih ada segragasi yang diciptakan negara terhadap lawan ideologisnya. Jika Amerika masih ngotot untuk memaksakan sistem kapitalisme, sementara di pihak musuhnya (bekas-bekas negara sosialis) terus menandinginya dengan berbagai cara untuk saling merebut “kemenangan”, pada saat inilah kebencian dari kepalsuan ideologis itu terus menjamur.

Columbia, Juli- Jogja, Oktober 2010

Versi cetak dari tulisan ini ada di buku : Karya Unggulan Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta: Islam: National Character Building dan Etika Global (2010).





0 comments: